Pelabuhan Tanjung Priok, sebagai pelabuhan tersibuk dan gerbang utama ekspor-impor nasional yang menangani lebih dari 70% arus perdagangan Indonesia, kini menghadapi tantangan pelik terkait kelancaran logistik dan kemacetan lalu lintas di sekitarnya. Berbagai permasalahan krusial ini mengemuka dalam diskusi bertajuk “Prospek Bisnis di Pelabuhan Tanjung Priok” yang diselenggarakan oleh Indonesia Port Editors Club (IPEC) pada 29 Juli 2025 di Jakarta Utara.
Masalah Kontainer Longstay dan Kemacetan di Luar Pelabuhan
Salah satu isu utama yang menjadi sorotan adalah tingginya jumlah kontainer longstay (kontainer yang menumpuk lebih dari 3 hari) di terminal-terminal peti kemas. Berdasarkan data Logistiknews.id per 30 Juli 2025 pukul 08.00 WIB, terdapat 9.237 boks kontainer yang masuk kategori longstay, dengan 8.554 boks menumpuk lebih dari 3 hari dan 683 boks lebih dari 30 hari. Sebaran kontainer longstay ini berada di terminal-terminal besar seperti JICT (3.471 boks), NPCT-1 (852 boks), hingga IPC TPK Domestik dan Internasional.
Kondisi ini turut memicu tingginya tingkat Yard Occupancy Ratio (YOR) di sejumlah terminal, seperti IPC TPK Domestik MSA yang mencapai 63%, dan JICT sebesar 51%. Tingginya YOR menandakan keterbatasan kapasitas lahan penumpukan, yang pada akhirnya memperlambat arus logistik.
Di luar kawasan pelabuhan, kemacetan turut dipicu oleh keberadaan 102 depo kontainer dan 95 pool peti kemas yang tersebar di wilayah Jakarta Utara. Distribusi market share yang tidak seimbang menyebabkan fenomena “depo overflow”, di mana banyaknya aktivitas logistik di jalan-jalan utama seperti Jalan Raya Cilincing, Jalan Akses Marunda, Jalan Cakung Cilincing Raya, dan Jalan Yos Sudarso menyebabkan kepadatan yang kronis.
Empat Permasalahan Utama Menurut Pemkot Jakarta Utara
Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Utara, Hendrico Tampubolon, mengidentifikasi empat persoalan utama yang perlu segera diselesaikan bersama:
- Overcapacity Depo dan Pool
Jumlah depo dan pool yang tinggi tanpa pengaturan distribusi yang merata menyebabkan kepadatan di jalanan sekitar pelabuhan. - Belum Ada Regulasi Tarif Depo
Tidak adanya penetapan tarif batas atas dan bawah oleh Kementerian Perhubungan menciptakan disparitas harga dan ketidakteraturan market share antar pelaku usaha depo. - Waktu Operasional Angkutan Barang Tidak Dibatasi
Ketiadaan pembatasan jam operasional di ruas-ruas utama menyebabkan kemacetan sepanjang hari, tanpa jeda beban lalu lintas. - Tingginya Kecelakaan Lalu Lintas
Selama periode 2022 hingga 2024, tercatat 328 kasus kecelakaan di wilayah Jakarta Utara akibat padatnya aktivitas logistik di luar pelabuhan.
Respon dan Harapan Stakeholder
Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta, Adil Karim, mendorong pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret. Menurutnya, kajian menyeluruh yang melibatkan stakeholder logistik, asosiasi pengusaha, dan regulator sangat penting demi menata depo yang tidak tertib dan mengganggu kelancaran logistik nasional.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Depo Kontainer Indonesia (ASDEKI), A. Yacub, menyoroti masalah mahalnya tarif depo yang menurutnya dipicu oleh dominasi perusahaan pelayaran dalam menentukan tarif. Ia menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan kajian mengenai tarif batas atas dan bawah, dan mendesak Dinas Perhubungan untuk menertibkan lokasi-lokasi depo liar yang memperparah kemacetan.
Yacub juga mengakui bahwa sebagian depo memang sering disalahkan atas kemacetan, meskipun dari 63 depo di sekitar Cilincing, hanya separuhnya yang merupakan anggota ASDEKI. Ia menekankan pentingnya penertiban usaha depo ilegal yang kian menjamur.
Upaya Pelindo dan Bea Cukai: Transformasi Infrastruktur dan Digitalisasi
Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, Yandri Trisaputra, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai transformasi strategis, baik dari sisi infrastruktur maupun teknologi. Beberapa langkah nyata yang tengah dilakukan meliputi:
- Pengembangan Terminal Kalibaru (New Priok)
- Revitalisasi Ex-JICT 2
- Pembangunan jalan tol New Priok Eastern Access (NPEA) yang menghubungkan pelabuhan dengan kawasan industri di Cibitung dan Cikarang
Selain itu, hingga Juni 2025, arus peti kemas internasional di Priok telah mencapai 3,94 juta TEUs, sementara muatan non-kontainer mencapai 10,07 juta ton, menunjukkan pertumbuhan yang positif meskipun diliputi berbagai kendala teknis.
Dari sisi layanan kepabeanan, Kepala Bidang Bimbingan Kepatuhan Internal dan Layanan Informasi KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok, Ardhani, mengungkapkan bahwa lebih dari 140 proses bisnis sudah bisa diakses secara online melalui sistem CEISA (Customs Excise Information System and Automation), menyisakan hanya sekitar 20 proses yang masih berbasis dokumen fisik. Hal ini merupakan bagian dari upaya mempercepat layanan dan efisiensi operasional di pelabuhan.
Opini: Efisiensi Logistik Harus Menjadi Fokus Bersama
Permasalahan yang berlapis di Pelabuhan Tanjung Priok bukan hanya mencerminkan tantangan fisik seperti kemacetan atau kontainer longstay, tetapi juga menunjukkan lemahnya synchronization antar aktor logistik. Efisiensi logistik tidak cukup hanya ditingkatkan melalui digitalisasi di satu pihak (seperti Bea Cukai), atau pembangunan jalan akses oleh Pelindo. Semua itu harus berjalan beriringan dengan:
- Penataan tata ruang dan zonasi depo secara menyeluruh
- Regulasi tarif yang transparan dan adil
- Pengaturan waktu operasional truk kontainer
- Penerapan sistem antrian dan distribusi kontainer berbasis teknologi
- Penguatan kolaborasi antarlembaga lintas kewenangan
Dalam konteks ekonomi nasional, ketidakefisienan logistik tidak hanya menyebabkan high cost economy, tapi juga mengurangi daya saing produk ekspor Indonesia di pasar global. Pelabuhan Tanjung Priok harus bertransformasi dari sekadar gerbang fisik menjadi simpul sistem logistik cerdas yang terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan.
Tanpa upaya terkoordinasi yang serius dari pemerintah pusat, pemda, operator pelabuhan, asosiasi pelaku usaha, dan regulator, maka semua kemajuan infrastruktur hanya akan menjadi simbol tanpa substansi.
Referensi:
https://investor.id/business/404706/pelabuhan-tanjung-priok-masih-jadi-magnet-bisnis
https://www.logistiknews.id/2025/07/30/menanti-obat-mujarab-momok-logistik-di-tanjung-priok/
https://www.antaranews.com/berita/4999989/pelindo-regional-2-sebut-arus-barang-dan-petikemas-relatif-stabil
https://oceanweek.co.id/102-depo-petikemas-dituding-menyumbang-kemacetan-di-pelabuhan-priok/
https://money.kompas.com/read/2025/07/29/171100926/permasalahan-yang-bikin-logistik-terganggu-di-pelabuhan-tanjung-priok?page=all

