PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) menetapkan rencana belanja modal yang ambisius untuk tahun 2025 dengan tetap menjaga konsistensi dalam pembagian dividen. Perusahaan akan mengalokasikan hingga USD 250 juta untuk ekspansi yang mencakup pembelian armada baru, investasi pelabuhan, serta pengembangan galangan kapal. Di tengah rencana ekspansi besar ini, Samudera tetap menerapkan kebijakan dividen yang disiplin, menyesuaikan dengan performa dan kebutuhan modal perusahaan.
Perusahaan pelayaran dan logistik yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta ini menegaskan komitmennya untuk tetap memberikan nilai bagi pemegang saham, tidak hanya dalam bentuk dividen tunai, tetapi juga melalui ketahanan jangka panjang dan pertumbuhan berkelanjutan. Pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang digelar 30 Juni lalu, manajemen mengumumkan pembagian dividen sebesar Rp180,2 miliar (setara dengan USD 11 juta), atau Rp11 per saham. Angka ini mencerminkan 23 persen dari laba bersih tahun 2024 yang tercatat sebesar sekitar Rp824 miliar (USD 50,7 juta). Pembagian ini termasuk pembayaran interim sebesar Rp2 per saham yang telah dilakukan pada Agustus tahun lalu. Kebijakan tersebut disebut sebagai bentuk pendekatan yang disiplin, di mana dividen hanya dibagikan setelah seluruh prioritas strategis dan operasional perusahaan terpenuhi.
Ekspansi yang direncanakan perusahaan mencakup berbagai lini penting. Pada awal tahun ini, Samudera menambahkan satu kapal peti kemas berkapasitas 694 TEU ke dalam armadanya—yakni kapal Sinar Pangkalan Brandan. Penambahan ini menjadi langkah responsif terhadap permintaan angkutan laut global yang terus meningkat. Di tingkat industri, tingkat kapal idle saat ini berada pada titik rendah secara historis, mencerminkan ketatnya pasokan dan kuatnya arus perdagangan global pasca-pandemi.
Namun, tantangan pasokan masih membayangi. Galangan kapal global telah penuh hingga tahun 2029, sehingga perusahaan seperti Samudera harus mencari alternatif untuk melanjutkan ekspansi. Perusahaan menyatakan akan terus berupaya mengakuisisi kapal baru, baik melalui pembelian kapal yang tersedia maupun mengambil alih kontrak pembangunan yang sedang berjalan. Meski optimis terhadap prospek pasar, manajemen tetap menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap dinamika global yang tidak menentu, termasuk kebijakan perdagangan dan fluktuasi tarif pengangkutan.
Dalam upaya mengurangi ketergantungan pada fasilitas eksternal, Samudera juga tengah membangun galangan kapalnya sendiri di atas lahan seluas 5,5 hektare di kawasan Samudera Madura Shipyard, Jawa Timur. Fasilitas ini akan mampu menangani pembangunan dan perawatan kapal hingga kapasitas 40.000 DWT, termasuk jenis kapal seperti tongkang, tanker, tugboat, dan kapal peti kemas. Galangan ini dirancang untuk mendukung ambisi maritim Indonesia dan ditargetkan menjadi pusat pembangunan kapal utama di kawasan Indonesia timur. Fasilitas ini pun dipastikan mampu menyediakan layanan penuh dan memenuhi standar internasional.
Selain armada dan galangan, ekspansi juga menyasar pengembangan infrastruktur pelabuhan. Samudera terlibat dalam proyek pembangunan terminal peti kemas baru di Pelabuhan Patimban, Subang, Jawa Barat, melalui perusahaan patungan PT Patimban Global Gateway Terminal (PGT). Terminal ini ditargetkan mulai beroperasi pada Agustus 2026. PGT merupakan kerja sama antara Samudera, Africa Global Logistics (anak usaha MSC), dan Toyota Tsusho Corporation. Pada Februari 2025, PGT menandatangani perjanjian pengelolaan operasional selama 37 tahun dengan PT Pelabuhan Patimban Internasional, perusahaan pelat merah yang ditunjuk pemerintah. Terminal ini akan dikembangkan secara bertahap dengan kapasitas akhir sebesar 3,7 juta TEU. Manajemen menyebut proyek ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun jaringan logistik terintegrasi dan memperkuat posisi Indonesia sebagai poros maritim global.
Untuk mendanai seluruh rencana ekspansi ini, Samudera mengandalkan kombinasi dari arus kas internal, pinjaman perbankan, dan penerbitan surat utang berbasis syariah (sukuk). Salah satu instrumen utamanya adalah Sukuk Ijarah I Tahap II senilai Rp500 miliar dengan tenor lima tahun, yang dijadwalkan tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 7 Juli. Manajemen menyebut bahwa penerbitan sukuk ini memungkinkan akses ke pasar modal syariah yang terus tumbuh, sambil tetap menjaga efisiensi biaya pendanaan.
Dengan modal yang kuat, kinerja yang positif, serta infrastruktur logistik yang terus berkembang, Samudera Indonesia dinilai berada dalam posisi strategis untuk merespons peluang di industri pelayaran global. Perusahaan menegaskan komitmennya untuk terus menciptakan nilai jangka panjang melalui pertumbuhan yang berkelanjutan dan kebijakan pengembalian kepada pemegang saham yang disiplin.
Sepanjang kuartal pertama 2025, Samudera mencatat lonjakan laba bersih sebesar 52 persen menjadi USD 15,5 juta dibandingkan USD 10,2 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan juga meningkat sebesar 16 persen menjadi USD 181,2 juta, didorong oleh penguatan pasar pelayaran regional.

