Transformasi digital menjadi elemen kunci dalam menghadapi tantangan rantai pasok global di era Revolusi Industri 4.0. Penguasaan teknologi oleh pelaku industri dinilai sangat penting untuk meningkatkan produktivitas, fleksibilitas, kelincahan, serta daya saing perusahaan di tengah disrupsi rantai pasokan yang terjadi beberapa tahun terakhir.
Isu ini menjadi fokus dalam Seminar “Technology in Supply Chain V.2: AI, IoT, Big Data, and Blockchain” yang diselenggarakan di Jakarta oleh Supply Chain Indonesia (SCI) dan PT Mostrans Global Digilog (Mostrans). Seminar tersebut menegaskan bahwa masa depan rantai pasok Indonesia bergantung pada tiga pilar utama: inovasi berkelanjutan, kolaborasi antar pemangku kepentingan, dan digitalisasi yang terstruktur.
CEO Mostrans, Berty Argiyantari, menekankan pentingnya visibilitas dan pertukaran data secara real-time dalam satu ekosistem terintegrasi. Tanpa hal tersebut, menurutnya, bisnis akan menghadapi risiko inefisiensi, produktivitas rendah, dan lambatnya respons terhadap dinamika pasar yang dapat menurunkan daya saing.
Mostrans sendiri terus mendorong integrasi ekosistem melalui pemanfaatan teknologi digital seperti kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), blockchain, dan big data analytics. Teknologi-teknologi ini dipercaya mampu meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, mempercepat respon pasar, serta memungkinkan mitigasi risiko secara proaktif dan efisien.
Seminar ini juga menghadirkan berbagai pembicara dari sektor publik dan swasta. Gunawan Hutagalung, Direktur Pos dan Penyiaran dari Ditjen Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Informatika, sebagai keynote speaker membawakan materi berjudul “Navigating VUCA: AI-based Data Analytics in Global Supply Chain”.
Pembahasan juga meluas ke sektor-sektor strategis lainnya. Dalam industri farmasi dan logistik, kebutuhan akan transformasi digital disampaikan oleh Associate Director KPMG Advisory Michelle, VP SBU Digital Service & Enterprise IT PT Bio Farma Subhan Novianda, serta CTO Mostrans Risman Adnan.
Sektor makanan, minuman, dan FMCG tak luput dari perhatian. Deni Ruhyadi dari PT Agronesia, Putu Nimita dari Schneider Indonesia, William Linandry Wijaya dari ICS Compute, serta praktisi distribusi FMCG Yauche Lizar, menyoroti peluang dan tantangan digitalisasi dalam meningkatkan efisiensi operasional dan distribusi.
Pada sektor kepelabuhanan dan ritel, Dirut PT Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) Natal Iman Ginting, GM Enterprise Solution Management Telkomsel Fadli Hamsani, dan Praktisi SCM Krisna S. Yanuar menjelaskan pentingnya penerapan teknologi dalam mendukung sistem logistik nasional yang lebih adaptif dan responsif.
ICS Compute turut menekankan pentingnya kolaborasi strategis dalam penerapan AI di rantai pasok. Mereka menyebut bahwa keberhasilan implementasi teknologi tersebut sangat bergantung pada pemahaman mendalam dan keahlian teknis yang mumpuni.
Dengan semakin terintegrasinya ekosistem teknologi dan tumbuhnya kolaborasi lintas sektor, Indonesia diyakini berada di jalur yang tepat untuk membangun rantai pasok cerdas dan tangguh yang mampu bersaing secara global.

